BUDAYA KERJA DAN KESEJAHTERAAN
BUDAYA KERJA DAN
KESEJAHTERAAN
OLEH: MEGI
VORNIKA,M.Pd
A.
Memahami Budaya Kerja
Budaya kerja sudah lama
dikenal oleh umat manusia, namun belum disadari bahwa suatu keberhasilan kerja
itu berakar pada nilai-nilai yang dimiliki dan perilaku yang menjadi
kebiasaannya. Nilai-nilai tersebut bermula dari adat kebiasaan, agama, norma
dan kaidah yang menjadi keyakinannya menjadi kebiasaan inilah yang dinamakan
budaya. Karena budaya dikaitkan dengan mutu (kualitas) kerja, kita namakan
budaya kerja.
Falsafah negara, bangsa
dan masyarakat Indonesia telah jelas dimuat dalam Pembukaan UUD 1945 yang kita
namakan Pancasila. Nilai-nilai luhur
yang terkandung di dalamnya merupakan cermin nilai-nilai luhur yang hidup di
masyarakat. Dalam menghadapi tantangan
apa pun, hakikat nilai-nilai luhur tersebut tidak bisa berubah sebab
yang berubah adalah nilai-nilai instrumental
yang disesuaikan dengan perkembangan lingkungan. Untuk itu, kualitas SDM dituntut responsif
atau peka, penuh prakarsa, bersikap proaktif, terampil, mandiri, disiplin, integritas tinggi, dan
lain-lain.
Berpijak dari
nilai-nilai yang dimiliki oleh bangsa atau masyarakat Indonesia, kebudayaan
diolah sedemikian rupa, sehingga menjadi nilai-nilai baru yang menjadi sikap
dan prilaku manajemen dalam menghadapi
tantangan baru. Budaya kerja tidak muncul begitu saja, tetapi harus diupayakan
dengan sungguh-sungguh melalui suatu proses yang terkendali dengan melibatkan
semua SDM dalam seperangkat sistem, alat, dan teknik pendukung.
Budaya kerja adalah
suatu falsafah yang didasari oleh pandangan hidup sebagai nilai-nilai yang
menjadi sifat, kebiasaan, dan kekuatan pendorong, membudaya dalam kehidupan
suatu kelompok masyarakat atau organisasi, kemudian tercermin dari sikap
menjadi perilaku, kepercayaan, cita-cita, pendapat, dan tindakan yang terwujud
sebagai “kerja” atau “bekerja”. Budaya kerja organisasi adalah manajemen yang meliputi
pengembangan, perencanaan, produksi, dan pelayanan suatu produk yang
berkualitas dalam arti optimal, ekonomi dan memuaskan.
Budaya kerja adalah
salah satu komponen kualitas manusia yang sangat melekat dengan identitas
bangsa dan menjadi tolak ukur dasar dalam pembangunan. Budaya kerja ikut
menentukan integritas bangsa dan menjadi penyumbang utama dalam menjamin
kesinambungan kehidupan bangsa. Budaya kerja
sangat erat kaitannya dengan nilai-nilai yang dimilikinya, terutama falsafah
bangsa yang mampu mendorong prestasi kerja setinggi-tingginya. Program budaya
kerja akan menjadi kenyataan melalui proses panjang karena perubahan
nilai-nilai lama menjadi nilai-nilai
baru memakan waktu untuk menjadi kebiasaan dan tak henti-hentinya terus
melakukan penyempurnaan dan perbaikan. Wahana budaya kerja adalah
produktivitas, yang berupa perilaku kerja yang tercermin, antara lain: kerja
keras, ulet, disiplin, produktif, tanggung jawab, motivasi, manfaat, kreatif,
dinamik, kosekuen, konsisten, responsif, mandiri, makin lebih baik, dan
lain-lain.
Nilai merupakan inti
dari pilihan moral, yang berkaitan dengan etika dalam administrasi/ manajemen. Nilai-nilai
merupakan sesuatu yang dianggap “baik” “menyenangkan”, atau “penting”, “manfaat”.
Nilai merupakan semua yang dianggap baik, kewajiban, keindahan, kebenaran, dan
luhur. Nilai adalah dasar pertimbangan yang berharga bagi seseorang atau
organisasi untuk menentukan sikap dan perilaku dalam menghadapi suatu masalah
atau kejadian. Dengan demikian nilai adalah suatu makna yang berfungsi: 1)
memberikan tujuan, arti, kesenangan, dan nilai pada kehidupan untuk melakukan
sesuatu; (2) mempermudah dalam membuat keputusan; (3) menentukan bagaimana kita
melihat persoalan; (4) memberi arti,
makna, dan signifikansi pada masalah
tertentu; (5) ada yang bersifat sesaat dan ada juga yang permanen
(Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur
Negara RI No.25/KEP/M.PAN/4/2002). Nilai budaya kerja adalah pilihan
nilai-nilai moral dan etika yang
dianggap baik dan positif.
Budaya kerja adalah
sikap terhadap pekerjaan, yakni kesukaan terhadap kerja dibandingkan dengan
kegiatan lain, seperti bersantai, atau semata-mata memperoleh kepuasan dari
kesibukan pekerjaannya sendiri, atau merasa terpaksa melakukan sesuatu hanya
untuk kelangsungan hidupnya. Perilaku pada saat bekerja, seperti rajin,
berdedikasi, bertanggung jawab, berhati-hati, teliti, cermat, kemauan
yang kuat untuk mempelajari tugas dan kewajibannya, suka membantu sesama
karyawan, atau sebaliknya.
Total quality governmance (TQG) dengan beberapa prinsip
: Mempertemukan tuntutan masyarakat dan kemampuan pemerintahan, mekanisme kerja
yang berorientasi pada pasar, mengaktualisasikan misi lebih penting dari pada
mengatur, fokus keja pada hasil/ kelaran (barang/ jasa) bukan masukan, upaya
kualitas lebih banyak mencegah daripada memperbaiki/ mengobati, mengutamakan
kerja partisipatif/ gotong-royong, melakukan kerja sama, koordinasi dan
kemitraan.
Tujuan dan manfaat
budaya kerja, melaksanakan budaya kerja mempunyai arti yang sangat dalam karena
akan mengubah sikap dan perilaku SDM untuk mencapai produktivitas kerja yang
lebih tinggi dalam menghadapi tantangan masa depan. Manfaat yang diperoleh, antara lain menjamin
hasil kerja dengan kualitas yang lebih baik, membuka seluruh jaringan komunikasi, keterbukaan, kebersamaan,
kegotong-royongan, kekeluargaan, menemukan kesalahan dan cepat memperbaiki
kesalahan, cepat menyesuaikan diri dengan perkembangan dari luar (faktor
eksternal seperti pelanggan, teknologi, sosial, ekonomi dan lain-lain),
mengurangi laporan berupa data-data dan informasi yang salah dan palsu. Manfaat
lain, seperti kepuasan kerja meningkat, pergaulan yang lebih akrab, disiplin
yang meningkat, pengawasan fungsional berkurang, pemborosan yang berkurang,
tingkat absensi turun, adanya keinginan belajar terus, keinginan memberikan yang
terbaik bagi organisasi, dan lain-lalin.
Tujuan fundamental
budaya kerja adalah membangun SDM seutuhnya agar setiap orang sadar bahwa
mereka berada dalam suatu hubungan sifat peran sebagai pelanggan, pemasok, dan
komunikasi dengan orang lain secara efektif dan efisien serta menggembirakan. Oleh
karena itu, budaya kerja berupaya mengubah budaya komunikasi tradisional
menjadi perilaku manajemen modern, sehingga tertanam kepercayaan dan semangat
kerja sama yang tinggi serta disiplin.
B.
Kesejahteraan
Comments
Post a Comment